Sore di Jatinangor, tapi di sebuah daerah yang asing. Kami bertiga melewati lorong sempit berliku seperti sebuah labirin tanpa cahaya, untungnya saat itu masih sore, jadi phobia gelapku ngga kambuh. Tapi tetap saja langkahku tertatih, terpelagu, sesekali tersandung kecil dan aku bertahan menarik mantel pria with his eye’s frames, secukup genggaman tangan. Aku memang suka kikuk dalam keadaan gelap. Akhirnya ada cahaya, tapi jalanan semakin memipit, kami harus berjalan diantara dua tambak ikan.
Oya, tempat ini pernah sesekali ku lewati, tapi baru kali ini bertandang. “Kostan ini lebih cocok jadi tempat syuting film horror ya…” Beberapa kayunya tampak vintage skali. Lumut yang cerai berai menutupi tembok yang abu – abu sudah tanpa cat lagi. Apalagi di anak – anak tangga menuju lantai dua, begitu banyak bercak lumpur cair, perfect, kalau dibuat adegan seorang gadis yang tergopoh dikejar sebuah monster paranoid dalam fikirannya, menaiki tangga, ter-engah selalu menoleh kebelakang, seakan monster besar paranoid itu akan menerkam menerjangnya. Ah, tampak sinetron sekali. Tapi kostan ini punya satu point yang membuat ku tertarik, sebuah lapangan basket dengan ring yang koyak, tak peduli, aku selalu mencintai dunia basket.
Lalu Kami sampai di ruang lembab, hampir usang. Ruangan ini pencerminan jiwanya ku fikir. Ada sebuah layar computer sebesar gaban, ini layar shuffle katanya, karena kemarin baru saja terjadi ledakan hebat yang bukan kehendaknya dengan komputernya itu, untung hanya layarnya saja yang harus dikorbankan. Lebih untung lagi bukan seisi kamarnya yang meledak. Sudah cukuplah kamarnya yang porak – porandak itu. Di layar komputernya tertempel empat notes kuning, berisi kalimat – kalimat provokatif, dari gadisnya, temanku juga, aku cukup mengenalnya di kampus, gadis berkawat gigi yang selalu tampak riang dan fashionable. Entah apa jadinya temanku itu hidup bersama pria ini di sebuah unregulate room of I don’t think what, so..
Yang lainnya aku tak ingat lagi, cma ada satu spot yang tertata, sebuah nilai plus lagi, dua buah rak mini, kuning dan biru. Disana ada kurang lebih ratusan buku miliknya. Mungkin untuk warisannya kelak, entahlah.. Teman saya pemilik kamar ini memang senang sekali menggontai dalam kamarnya, menikmati kata demi kata yang akan menjadi penghuni otak, lantunan penulis ternama.
Akhirnya aku bisa merasa nyaman berada di ruangan yang ku fikir ternyata ada tempat yang lebih mendistorsi selain broken lullaby room, ah, knapa aku slalu membandingkan apapun dengannya, dya tidak berfungsi sebagai sebuah perbandingan..
Lalu kami becengkrama dalam kata - kata, celotehnya saat itu dan kami pun bergumam.. Aku dan pemilik kamar itu, dengan segelas air putih, terkadang menceritakan gadisnya dan priaku dahulu.. makhluk selain kami berdua, jangan harap, dia tak dapat diganggu bila sudah berkutat dengan mesin pembunuh waktu itu, vector saja terus muka setiap manusia yang kau kenal. Sampai lupa kalau saja ini sudah gelap, aku lapar bodoh! Dan buruknya lagi aku sudah melewatkan satu janji dengan seseorang.. Oh, God.. I’ve broken the promise..